tanpa disadari, di era media sosial ini, privasi seakan-akan menjadi barang yang langka. sekarang nonton film aja harus live ig, kalau lagi jalan-jalan yaa paling asyik update pake instastory, kalau putus sama pacar yaa bikin vlog. semudah itu semua kehidupan pribadi menjadi penting dan layak untuk diketahui oleh khalayak ramai, zaman sekarang setiap orang bisa menjadi seleb 😄.
bagi saya, gaa ada yang salah dengan semua update-an itu, yaa namanya juga hidup-hidup mereka, kalau gaa mengganggu kenapa harus dipermasalahkan. tetapi, yang kadang lebih menarik perhatian adalah bagaimana orang lain bereaksi terhadap suatu post seseorang.
saya seringkali mengamati perilaku seseorang saat berinteraksi di dunia maya, paling seru melihat bagian komentar, terutama dari akun instagram, dan setiap membaca komentar yang ajaib, saya refleks geleng-geleng kepala, gak habis pikir bagaimana seseorang begitu mudahnya menghakimi orang lain, apalagi kalau kalimat yang dituliskan di kolom komentar banyak umpatan kasar atau berbicara seolah yang paling benar. kalau saya pribadi sudah terlalu lelah dengan berbagai berita hoax yang lebih cepat menyebar dalam sekedipan mata, dan komentarnya itu lhoo, tajem-tajem banget, tajeman jari tangan dibandingkan lidah. dan saya pun mengakui (seperti juga kebanyakan orang) diam-diam juga seringkali membuat justifikasi tertentu terhadap orang lain walaupun hanya tercetus dalam hati saja. pada suatu hari, saya tidak sengaja melihat sebuah gambar dan langsung kepikiran, bahwa jangan sampai postingan seseorang membuat kita menjadi hakim untuk orang lain. jangan-jangan, perlahan sudah tumbuh benih-benih iri hati. duh...
padahal kan, belum tentu yang terlihat di media sosial adalah hal yang benar-benar terjadi di dunia nyata, bukankah setiap orang pasti hanya ingin memperlihatkan kehidupan yang baik-baik saja?
mudah saja melihat pola kehidupan orang lain dari feed instagramnya. seseorang yang baru menikah pasti jadi lebih sering update kemesraan dengan pasangan hestek pacaran halal, seorang ibu muda lagi rajin-rajinnya update foto kelucuan balitanya, di satu sisi, ada juga yang senang update tempat liburannya. wajar aja kan. walaupun begitu, ada aja orang-orang yang tetap berkomentar sinis, padahal belum tentu kenal sama yang dikomentarin.
kita toh tidak tahu bagaimana proses seseorang hingga menjadi dirinya yang sekarang. sekali lagi, yang terlihat indah dalam foto-foto sosial media belum tentu seindah cara memperolehnya.
pasangan yang baru menikah itu bisa jadi adalah pasangan LDR yang cuma ketemu dua minggu sekali, sehingga seringkali update foto berdua, ibu muda yang baru punya balita mungkin menganggap media sosial sebagai sarana refreshing, setelah seharian penuh berkutat dengan pekerjaan rumah tangga yang tiada habisnya. seseorang yang sering update liburannya boleh jadi sudah bekerja keras bahkan lembur demi mencukupi uang tabungan.
jadi, akan selalu ada cerita dibalik sebuah foto yang terpampang di sosial media, tak selalu sebahagia yang terlihat. kadang ada juga pahit yang tidak dibagi...
tapi... mungkin kita memang perlu untuk lebih bijak dalam menggunakan media sosial, khawatir akan memicu gunjingan-gunjingan yang tak perlu, karena tidak ada salahnya turut menjaga perasaan orang lain, kan?

Be First to Post Comment !
Post a Comment